Minggu, 13 Januari 2013


HIKAYAT 
PERKARA SI BUNGKUK DAN SI PANJANG


Disusun Oleh:
ERNA FITRI SUSANTI 11144600065
A2-11


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2012 / 2013





Hatta maka berapa lamanya Masyuhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu. Maka pada suatu hari adalah dua orang laki-istri berjalan. Maka sampailah ia kepada suatu sungai. Maka dicaharinya perahu hendak menyebrang, tiada dapat perahu itu. Maka ditantinya kalau-kalau ada orang lalu berperahu. Itu pun tiada juga ada lalu perahu orang. Maka ia pun berhentilah di tebing sungai itu dengan istrinya. Sebermula adapun istri orang itu terlalu baik parasnya. Syahdan maka akan suami perempuan itu sudah tua, lagi bungkuk belakangnya. Maka pada sangka orang tua itu, air sungai itu dalam juga. Katanya, “Apa upayaku hendak menyeberang sungai ini?”
Maka ada pula seorang Bedawi duduk di seberang sana sungai itu. Maka kata orang itu, “ Hai tuan hamba, seberangkan apalah kiranya hamba kedua ini, karena hamba tiada dapat berenang; sungai ini tidak hamba tahu dalam dangkalnya.” Setelah didengar oleh Bedawi kata orang tua bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu baik rupanya, maka orang Bedawi itu pun sukalah, dan berkata di dalam hatinya, “Untunglah sekali ini!”
Maka Bedawi itu pun turunlah ia ke dalam sungai itu merendahkan dirinya, hingga lehernya juga ia berjalan menuju orang tua yang bungkuk laki-istri itu. Maka kata orang tua itu, “Tuan hamba seberangkan apalah hamba kedua ini.” Maka kata Bedawi itu, “Sebagaimana hamba hendak bawa tuan hamba kedua ini? Melainkan seorang juga dahulu maka boleh, karena air ini dalam.”
Maka kata orang tua itu kepada istrinya, ”Pergilah diri dahulu.” Setelah itu maka turunlah perempuan itu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu. Arkian maka kata Bedawi itu, ”Berilah barang-barang bekal-bekal tuan hamba dahulu, hamba seberangkan.” Maka diberi oleh perempuan itu segala bekal-bekal itu. Setelah sudah maka dibawanyalah perempuan itu diseberangkan oleh Bedawi itu. Syahdan maka pura-pura diperdalamnya air itu, supaya dikata oleh si Bungkuk air itu dalam. Maka sampailah kepada pertengahan sungai itu, maka kata Bedawi itu kepada perempuan itu, ”Akan tuan ini terlalu elok rupanya dengan mudanya. Mengapa maka tuan hamba berlakikan orang tua bungkuk ini? Baik juga tuan hamba buangkan orang bungkuk itu, agar supaya tuan hamba, hamba ambil, hamba jadikan istri hamba.” Maka berbagai-bagailah katanya akan perempuan itu.
Maka kata perempuan itu kepadanya,”Baiklah, hamba turutlah kata tuan hamba itu.”
Maka apabila sampailah ia ke seberang sungai itu, maka keduanya pun mandilah, setelah sudah maka makanlah ia keduanya segala perbekalan itu. Maka segala kelakuan itu semuanya dilihat oleh orang tua bungkuk itu dan segala hal perempuan itu dengan Bedawi itu.
Kalakian maka heranlah orang tua itu. Setelah sudah ia makan, maka ia pun berjalanlah keduanya. Setelah dilihat oleh orang tua itu akan Bedawi dengan istrinya berjalan, maka ia pun berkata-kata dalam hatinya, ”Daripada hidup melihat hal yang demikian ini, baiklah aku mati.”
Setelah itu maka terjunlah ia ke dalam sungai itu. Maka heranlah ia, karena dilihatnya sungai itu airnya tiada dalam, maka mengarunglah ia ke seberang lalu diikutinya Bedawi itu. Dengan hal yang demikian itu maka sampailah ia kepada dusun tempat Masyhudulhakk itu.
Maka orang tua itu pun datanglah mengadu kepada Masyhudulhakk. Setelah itu maka disuruh oleh Masyhudulhakk panggil Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun datanglah dengan perempuan itu. Maka kata Masyhudulhakk, ”Istri siapa perempuan ini?”
Maka kata Bedawi itu, ”Istri hamba perempuan ini. Dari kecil lagi ibu hamba pinangkan; sudah besar dinikahkan dengan hamba.” Maka kata orang tua itu, ”Istri hamba, dari kecil nikah dengan hamba.” Maka dengan demikian jadi bergaduhlah mereka itu. Syahdan maka gemparlah. Maka orang pun berhimpun, datang melihat hal mereka itu ketiga. Maka bertanyalah Masyhudulhakk kepada perempuan itu, ”Berkata benarlah engkau, siapa suamimu antara dua orang laki-laki ini?” Maka kata perempuan celaka itu, ”Si Panjang inilah suami hamba.”
Maka pikirlah Masyhudulhakk, ”Baik kepada seorang-seorang aku bertanya, supaya berketahuan siapa salah dan siapa benar di dalam tiga orang mereka itu. Maka diperjauhkannyalah laki-laki itu keduanya. Arkian maka diperiksa pula oleh Masyhudulhakk.
Maka kata perempuan itu, ”Si Panjang itulah suami hamba.” Maka kata Masyhudulhakk, ”Jika sungguh ia suamimu siapa mentuamu laki-laki dan siapa mentuamu perempuan dan di mana tempat duduknya?” Maka tiada terjawab oleh perempuan celaka itu. Maka disuruh oleh Masyhudulhakk perjauhkan. Setelah itu maka dibawa pula si Panjang itu.
Maka kata Masyhudulhakk, ”Berkata benarlah engkau ini. Sungguhkan perempuan itu istrimu?” Maka kata Bedawi itu, ”Bahwa perempuan itu telah nyatalah istri hamba; lagi pula perempuan itu sendiri sudah berikrar, mengatakan hamba ini tentulah suaminya.”
Syahdan maka Masyhudulhakk pun tertawa, seraya berkata, ”Jika sungguh istrimu perempuan ini, siapa nama mentuamu laki-laki dan mentuamu perempuan, dan di mana kampung tempat ia duduk?”
Maka tiadalah terjawab oleh laki-laki itu. Maka disuruh oleh Masyhudulhakk jauhkan laki-laki Bedawi itu. Setelah itu maka dipanggilnya pula orang tua itu. Maka kata Masyhudulhakk, ”Hai orang tua, sungguhlah perempuan itu istrimu sebenar-benarnya?”
Maka kata orang tua itu, ”Daripada mula awalnya.” Kemudian maka dikatakannya, siapa mentuanya laki-laki dan perempuan dan di mana tempat duduknya.
Maka Masyhudulhakk dengan sekalian orang banyak itu pun tahulah akan salah Bedawi itu dan kebenaran orang tua itu. Maka hendaklah disakiti oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun mengakulah salahnya. Demikian juga perempuan celaka itu. Lalu didera oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu serta dengan perempuan celaka itu seratus kali. Kemudian maka disuruhnya tobat Bedawi itu, jangan lagi ia berbuat pekerjaan demikian itu.
Maka bertambah-tambah masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu. (Hikayat Masyhudulhakk)

SINOPSIS
PERKARA SI BUNGKUK DAN SI PANJANG

Suatu hari terdapat sepasang suami istri yang hendak menyebrang sungai. Namun, mereka tidak menemukan perahu untuk menyebrang sungai tersebut. Karena laki-laki tua tersebut tidak mengetahui kedalaman sungai tersebut, lagipula dia bungkuk maka ia tidak berani untuk turun ke sungai. Dilihatnya seorang laki-laki Bedawi yang ada di seberang sungai, maka laki-laki tua itu meminta tolong kepada Bedawi untuk menyeberangkan ke sungai. Bedawi tersebut senang karena ia melihat istri laki-laki tua itu cantik parasnya, sedangkan suaminya sudah tua dan punggungnya bungkuk.
Dengan kelicikannya, Bedawi itu memanfaatkan laki-laki tua dengan berbohong bahwa sungainya dalam dengan ia memendekkan tubuhnya sampai lehernya tertutup air. Dia juga menginginkan istri orang tua itu dengan beralasan bahwa dia tidak mungkin membawa dua orang sekaligus maka laki-laki tua itu menyuruh istrinya untuk menyeberang terlebih dahulu.
Bedawi itu merasa sangat beruntung karena dengan dengan kelicikannya, ia membawa perempuan itu dan bekal barang-barang sepasang suami istri tersebut. Di tengah-tengah sungai Bedawi itu mencoba merayu perempuan tersebut dengan mengejeknya bahwa seorang wanita cantik tetapi mempunyai suami yang bungkuk. Dan ia mengatakan untuk memperistri wanita itu. Perempuan itu pun luluh dengan rayuan Bedawi tersebut, dan perempan itu pun menyetujui untuk menikah dengan Bedawi itu.
Setelah sampai di tepi sungai, Bedawi dan perempuan itu mandi lalu menikmati perbekalan yang telah dibawanya. Setelah itu mereka berjalan-jalan. Dari kejauhan, orang tua bungkuk itu merasa heran dengan tingkah laku Bedawi dan istrinya tersebut. Lalu ia memutuskan untuk menyusul mereka, ia nekat untuk menyeberangi sungai walaupun taruhannya nyawa. Setelah turun ke sungai, orang tua bungkuk tersebut heran karena ternyata sungai tersebut tidaklah dalam airnya.
Sesampainya di tepi sungai, orang tua tersebut pergi ke dusun Masyhudulhakk untuk mengadukan masalahnya tersebut. Setelah itu, Masyhudulhakk memanggil Bedawi dan perempuan tersebut dan menanyakan ‘’siapakah perempuan itu?”
Bedawi pun menjawab bahwa perempuan itu adalah istrinya yang telah dinikahinya. Akan tetapi, orang tua tersebut menyangkal perkataan Bedawi bahwa perempuan itu adalah istrinya. Maka terjadilah pertengkaran antara Bedawi dengan orang tua itu. Dan banyak orang yang berkerumun melihat kegaduhan tersebut.
Lalu Masyhudulhakk menanyakan kepada perempuan itu, siapakah sebenarnya suaminya tersebut. Lalu wanita itu menjawab bahwa suaminya itu adalah Si Panjang, Masyhudulhakk pun kembali bertanya kepada mereka tetapi secara bergantian, untuk yang pertama adalah perempuan itu, dia mengaku bahwa suaminya adalah si panjang. Namun, saat ia di tanyai oleh Masyhudulhakk sipakah mertua laki-laki dan wanitanya serta dimanakah mertuanya tinggal, ia tidak bisa menjawabnya.
Lalu, giliran Si Panjang yang ditanyai oleh Masyhudulhakk, apakah benar bahwa perempuan itu adalah istrinya, Si Panjang pun dengan yakin menjawab bahwa perempuan itu adalah istrinya, namun setelah ditanyai oleh Masyhudulhakk siapa nama mertua laki-laki dan perempuan serta dimana mertuanya tinngal, ia tidak dapat menjawabnya.
Lalu, Masyhudulhakk melanjutkan pertanyaannya kepada orang tua bungkuk tersebut, apakah benar perempuan tersebut adalah istrinya, ia menjawab dengan yakin bahwa perempuan itu adalah istrinya. Lalu, Masyhudulhakk menanyakan siapa mertua laki-laki dan perempuannya serta dimanakah mertuanya tinggal, orang tua bungkuk itu pun menjawab dengan jelas pertanyaan dari Masyhudulhakk tersebut.
Dari, pengakuan tersebut sudah diketahui siapa yang salah dan siapa yang benar. Orang tua bungkuk itu sudah terbukti bahwa dialah yang benar dan Bedawi itulah yang salah. Akhirnya, Bedawi dan perempuan itu pun mengakui kesalahannya dan mendapatkan hukuman dari Masyhudulhakk sebanyak 100 kali. Masyhudulhakk juga menyuruh Bedawi itu untuk bertaubat dan tidak melakukan perbuatan itu lagi.
Dari cara Masyhudulhakk memecahkan masalah dengan kemampuan dan kecakapannya, membuat Masyhudulhakk semakin terkenal kearifan dan kebijaksanaannya di dalam masyarakat.

UNSUR INTRINSIK

Tema : Kesetiaan dan Pengkhianatan Cinta
Alur : Alur maju
Sudut Pandang : orang ketiga serba tahu
Latar :  Latar  tempat : tepi sungai, sungai, sebuah dusun
   Latar keadaan :menegangkan, mengecewakan
   Latar Waktu :siang hari
Penokohan :
Masyhudulhakk : baik hati, arif, bijaksana, pintar, suka menolong,       cerdik
Si Bungkuk : baik hati, setia pada istrinya, suka mengalah, pemaaf, mudah percaya
Istri Si Bungkuk : mudah dirayu, egois, tidak setia, suka berbohong
Si Panjang / Bedawi : jahat, licik, egois
Amanat :
Kita tidak boleh mudah tergoda oleh rayuan-rayuan yang belum pasti kebenarannya. Karena itu akan membuat kita kecewa.
Kita tidak boleh bohongkepada siapapun. Karena berbohong itu berdosa dan dapat merugikan diri kita sendiri juga.
Kita harus membantu orang dengan ikhlas.
Syukurilah jodoh yang telah diberikan oleh Tuhan. Yakinlah bahwa jodoh kita tersebut adalah yang terbaik untuk kita.
Yakinlah bahwa kebaikan akan mengalahkan kejahatan. Karena kejahatan apapun akan terkuak walaupun sudah ditutup-tutupi sedemikian rupa.


Unsur Ekstrinsik

Nilai Moral
Kejujuran
Di dalam hikayat ini terdapat nilai kejujuran yang harus ditanamkan dalam diri ini di kehidupan sehari-hari. Dalam hikayat tersebut Bedawi dan perempuan itu tidak jujur maka mereka mendapatkan akibatnya yaitu harus menanggung malu dan mendapat hukuman karena kebohongannya.
Kebijaksanaan
Dalam hikayat ini tokoh Masyhudulhakk mempunyai sifat bijaksana yang baik untuk dicontoh. Dia bijaksana dalam menyelesaikan suatu masalah yang ia hadapi.
Kesetiaan
Dalam hikayat ini kita diajarkan untuk menjadi orang yang setia. Tokoh orang tua bungkuk tersebut mempunyai kesetiaan yang tinggi kepada istrinya. Dia tidak rela jika istrinya berselingkuh dengan orang lain, bahkan ia rela bertaruh nyawa demi istrinya saat melihat istrinya bersama Bedawi tersebut.

Nilai Sosial
Tolong menolong
Masyhudulhakk punya sifat tolong menolong dengan sesama. Dia dengan ikhlas menolong orang yang membutuhkan pertolongannya untuk menyelesaikan suatu masalah.
Bermusyawarah
Dalam hikayat tersebut terdapat budaya musyawarah untuk menyelesaikan suatu masalah. Bukan dengan kekerasan ataupun dengan cara fisik. Akan tetapi, dalam hikayat ini terdapat budaya untuk bermusyawarah secara baik-baik untuk memecahkan masalah.

Nilai Agama
Dalam hikayat ini, Masyhudulhakk menyuruh Bedawi dan perempuan itu untuk bertaubat agar dapat dilebur dosa-dosa yang ia perbuat. Bersyukur kepada Tuhan atas jodoh yang telah diberikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar